29 Nop. 09
Aku,,
Dan hatiku, ckup aku dan rasaku yang tau dan sanggup mengobati ini.
Perjalananku menjadi banyak warna, kecewa, cemburu, marah, sedih, smuanya beraduk.
Aku tak tau seberapa tegarkah aku, ak tak tahu seberapa hebatkah aku. Tapi yang aku tahu aku sellau berusaha menempatkan hatiku diposisi yang agar aku tak kalap dan melakukan hal yang tak seharusnya kulakukan, hanya sebuah pemikiran mungkin iya, tapi tak disertai dengan tindakan.
Kkecewaanmu terhadap orangtuamu, ibu terutama, akan menjadikanmu penyesalan dimasa depan. Mgkin itu yang sering aku pikirkan dan terapkan. Namun, akupun manusia biasa yang punya rasa kecewa. Apakah aku tak berhak kecewa dan marah kepada mereka ??? Aku punya hak tapi hendaknya hak itu tak usah terlalu aku perjuangkan karena kekecewaanku itu bisa jadi bumerang untukku. Pengampunan mutlak, setidaknya itu yang harus aku lakukan. Mereka yang lebih banyak kecewa saat perjalanannya membesarkanku, tapi mereka kubur rasa kecewa itu dengan cinta mereka.
Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang. Jujur aku kecewa, seakan aku ternilai oleh sebuah logam. Entah aku yang sok tahu atau memang perasaanku benar adanya. Aku hanya melihat saat itu terjadi, tidak setelah itu.
Aku tak peduli, aku merasa kecewa dan enggan tuk berinteraksi dengannya. Aku salah aku tau itu, hatiku menangis, tapi aku tetap enggan berinteraksi dengannya. Egois, munafik, tak papa bagiku, ckup aku mengangis dlm hati dan ckup aku yang tau masalahku sendiri, aku yakin aku mampu membantu aku.
Belm terobati rasa kecewaku, 1 hal lagi muncul. Kalau ini, tak mwjibkanku mengampuni, dan bukannya aku tak menggunakan options maafkan atau tidak. Tapi ini mmg kharusan bagiku untuk tegas.
Dia kekasihku, orang yang aku sayangi, dialah cinta pertamaku. Seberapa salahnya, dari dulu nyatanya aku bisa memafkannya dg lapang meski itu menyakitkan. Dulu aku tak seperti ini. Aku begitu takut kehilangan dia. Tapi sekarang aku hanya ingin berfikir realistis , bahwa sesuatunya itu pasti ada yang mengatur. Aku hanya menjalaninya ckup dg ikhlas dan sebaik”nya, keptusannya tetap ALLAH yang mengaturnya.
Cinta itu tak harus memiliki, setidaknya itu hal kedua yang kujadikan pedoman. Aku kecewa dengannya, jujur sangat kecewa, seakan” aku telah dibodohi. Tapi apa ?????? aku tetap saja lemah.
aku bersamanya sampai saat nii, karna aku percaya Tuhan masih menggariskan itu pda kami, dan bila suatu saat kami tak bersama, aku tahu Tuhan punya rencana yang lebih indah untuk kami.
Aku hanya bisa berdoa, untuk kebersamaan kami.
Dia terindah yang ada dhidupku.
......Kau, kuanggap kau adalah sebagian nyawaku
Kau telah lebih berarti dari sebelumnya
Kau adalah keluargaku saat aku butuh mereka yang menyanyangiku
Kau adalah sahabatku saat aku butuh mereka keluarkan lelucon tuk menghiburku
Bagiku . . . kau lebih dari sekedar kekasihku .
Aku menghormatimu, aku menyayangimu, dan aku menghargaimu .
Biarpun tiada raga nanti kan bersama, namun cinta ini akan senatiasa ada wlau sebijih zarah melakat dlm htiku
~Farynda Dafalyerz_
Jumat, 22 Januari 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
