
Suatu kebahagiaan yang berbeda untukku tlah kutemui seorang sepertimu. Bukan hanya kamu tapi kalian. Dari dulu aku begitu menghargai dan menjunjung tinggi arti persahabatan. Tak peduli dengan hal lain yang lebih, sahabat tetap terpenting untukku. Tak melangkahi arti hadir dan peran orangtua dan keluarga. Mereka suatu hal yang intim dan vital untukku tanpa di minta sekalipun untuk merasa.
Suatu ketika aku terkhianati oleh sahabat, dan di saat itu juga kepercayaanku mulai pudar. Labilnya aku saat dini, waktu aku alami itu. Semua yang telah aku percaya, hanya dia tempatnya bersandar tentang curahan hati, remuk redam seketika ku saksikan pengkhianatannya. Terasa sakit memang, tapi rasa itu mulai sembuh saat aku temukan lagi sahabat, yang hingga kini tetap selalu ada disampingku.
Ku berfikir, tentang pelajaran yang lalu, rasa sedikit trauma akan mengagungkan seorang sahabat. 3 tahun setelah aku menjalaninya, ternyata mereka berbeda. Mereka tak seperti yang aku bayangkan. Walau memang begitu kontras karakter yang kami miliki, tapi itu semua seakan menjadi pelengkap dalam perjalanan kehidupanku yang butuh banyak hal untuk belajar menjadi lebih baik dan lebih baik lagi
Aku tak lagi sendiri. Karena sahabat. Pernah aku membaca sebuah artikel yang menceritakan
tentang sahabat pada jaman Rasullulah Shallalahu 'alaihi wasalam. Diceritakan bahwa beliau
tersebut sangat memuliakan sahabat-sahabatnya dan memperlakukan mereka dengan sedemikian rupa
sehingga seolah-oleh bagi setiap sahabatnya mereka masing-masinglah yang paling istimewa.
Jadi bukan suatu hal yang salah atau mungkin berlebihan bila aku menganggap sahabat termasuk
orang paling istimewa dalam hidup aku.
Tak hanya sekolah saja yang menghadapi ujian, hidup pun juga, persahabatanpun tak luput dari
ujian. Akupun pernah mengalaminya, dan aku percaya semua orang pasti pernah mengalaminya.
Ku ambilkan contoh yang gak jauh-jauh, yah di TREAMNAT sendiri. Tiap tahun kami pasti punya
konflik, terakhir terjadi di kelas 3 ini, ada salah paham dikit antara aku dengan Mesdy.
Hahahahahahaha, saat puasapun, saat hari raya pun kami masih seperti orang yang tak kenal.
Pastinya harus ada salah satu yang mengalah kalau ingin masalahnya cepat selesai.
Aku beranikan diri untuk bicara dulu dengan dia. Fikirku dia akan menanggapinya dengan dingin,
tapi ternyata tidak. Dia menangis karena mungkin terharu, akupun juga. Aku kangen bercanda
tawa dengan dia. Cukup sekali itu aku berkelakuan sangat egois. Aku berusaha tak mengulangnya lagi.
Tapi percayalah, dibalik segala kesalahan, sahabat sejati tak pernah bersungguh-sungguh ingin
menyakiti sahabatnya. Aku ingin menunjukkan kepada sahabatku, TREAMNAT khususnya, bahwa kita
di ciptakan sebagai makhluk yang tak pernah sempurna dalam segala hal, kita di ciptakan dengan
begitu ragam watak dan kepribadian karena dengan itulah kita bisa belajar menghargai kelebihan
dan kekurangan sahabat kita dan menyayanginya secara sempurna.
Ingatlah saat kita terjatuh, terpuruk dan semua hal buruk yang menghamiri kita, sahabat selalu
setia disamping kita, memberi kita support, memberi kita tawa, dan kebanggaan terhadap diri
kita sendiri. Jadilah seorang sahabat yang bisa memahami perasaan orang lain, jadilah seorang
sahabat yang selalu siap menjadi 'good listener'.
Akhir ungkapanku, aku berharap kita tetap jadi sahabat, keep contact saat kita jauh nanti,
karena bagaimanapun juga tak kata mantan sahabat di dunia ini.
Wish all d'best 4 ue ... GBU ...
Senin, 09 Maret 2009
Aku dan Kamu
Minggu, 08 Maret 2009
BIOGRAFIKU
Pagi itu sekitar pukul 02.00 hari jumat, tanggal 24 Mei 1991 tepatnya, seorang bayi perempuan mungil dilahirkan. Dari sesosok ibu yang begitu dengan tulus dan sekuat tenaga berusaha menyelamatkan nyawa bayi itu. Bayi itu adalah aku. Yang kemudian disebutlah Rynda sebagai nama panggilanku dengan nama panjang Mega Farynda Kurnia Dewi. Nama yang cantik pemberian orang tuaku untukku, hadiah untukku saat aku ditakdirkan menghirup udara dunia sebagai Rynda. Pernahku tersirat tanya, kenapa aku diberi nama itu. Dan suatu hari ku dapat jawaban itu dari ayahku.
Mega yang berarti aku lahir bulan mei, Farynda dari kata Friday yang berarti jumat, Kurnia tentu saja berarti karunia, dan Dewi berarti anak kedua. Cukup memuaskan. Tahun 1997, saat berusia 4 tahun, aku mulai dilatih untuk bisa beradaptasi dengan banyak hal diluar rumah. TK ABA III, itulah sekolah dimana tempat aku merasakan pendidikan pertama kalinya.
Aku menemukan teman-teman baru, dan itu baru pertama kali aku rasakan. Hingga sekarang aku masih ingat siapa teman-teman dekatku waktu TK. Walaupun hanya satu dua orang saja. Vika, dia berjilbab, pandai melukis, dan pintar, dialah salah satu teman dekatku. Saat SMP pun kami dipertemukan lagi. Dia putri Pak Roem, salah guru Fisika di SMAdaBo. Mungkin Cuma itu yang bisa aku ingat, lainnya samar-samar.
Saat aku berusia 6 tahun, aku duduk dibangku Sekolah Dasar. SDN Ngumpakdalem III, itulah tempatku belajar. Lumayan jauh dari rumahku. Aku berangkat tiap hari bersama kakakku,Vika, dengan mengayuh sepeda mini berwarna merah. Begitu sayangnya dia kepadaku. Pulang sekolah kami mampir kerumah nenekku hanya untuk sekedar makan siang. Karena Orang Tuaku bekerja dari pagi dan sore baru pulang.
Begitu seterusnya sampai kakakku lulus dan melanjutkan di Sekolah Menengah Pertama. Aku berangkat sendiri, tetap dengan sepeda buntut itu. 6 tahun aku mengendarainya. Itu tak buatku patah semangat, walau jaraknya lumayan jauh dari rumahku. Tapi aku senang, karena selalu ada hal baru yang menjadi pelajaran untukku. Setelah aku tamat SD, aku melanjutkan ke SMPN 2 Bojonegoro.
Itulah keinginanku. Aku bangga karena lulus SD dengan nilai yang cukup baik. NEM-ku urutan ke-4 dari SDN 1-3 Ngumpakdalem. Tapi puasku tak cukup sampai di situ. Aku ingin lebih membanggakan orang tuaku dengan memilih di SMP 2. Dari situlah pertama kalinya aku harus beradaptasi lagi dengan orang-orang dari segala kalangan. Tentunya jauh berbeda dengan saat aku SD.
Tak jauh beda saat aku SD, SMP-pun aku tetap mengayuh sepeda. Bedanya aku punya sepeda baru yang lebih besar tentunya. Jaraknya pun semakin jauh kutempuh. Tapi tetap tak mematahkan semangatku. Di situ aku temukan banyak hal. Awal mula mungkin aku belajar menuju kedewasaan. Sekolah di
Walau saat itu masih SMP, tak menjadi suatu alasan bagi mereka tidak menjadi beringas. Dari aku yang tak tahu apa-apa tentang kehidupan yang begitu keras hingga aku bisa sedikit demi sedikit mempelajari dan mengetahui tentang kehidupan. Ku temukan banyak teman disini. Tak hanya yang baik, yang buruk pun ku dapati. Semua menjadi temanku, dan pandai-pandainya aku harus bisa menyaring mana yang benar dan mana yang salah.
Disini juga, aku tau tentang cinta. Cinta monyet mungkin, tapi itu cinta pertamaku. Dan hingga sekarang aku masih mencintai dia, dan tetap menjadi pacarku. Hehehehehe. Tapi bukan itu yang penting, tapi tentang hidup, pembelajaran dan caraku menuju kedewasaan. Banyak media dan hal yang membantu aku mencari jati diriku. Tentang karakterku, dan pendirianku. Aku orang yang egois, cuek, tapi sangat menghargai PERSAHABATAN.
Tak cukup sampai disini, saat aku SMA aku menemukan lagi bahkan lebih banyak hal yang menyenangkan. SMA Negeri 2 Bojonegoro, that’s my choice. Seperti saat aku mempunyai keinginan masuk di SMP 2, akupun juga sangat menginginkan bisa sekolah di SMA 2 Bojonegoro. Bisa dibilang mudah bagiku masuk di SMAdaBo, karena NEM ku yang lumayan baik juga. Ternyata menjadi orang pandai itu banyak manfaatnya (tak salahkan memuji diri sendiri, hahahahaha).
Tapi begitu aku merasakan satu dua hari dan hingga seterusnya, tak seperti apa yang ku bayangkan. Memang sih dalam hal bergaul, berteman, bersosialisasi, sangat menyenangkan dan lebih mudah. Tapi dalam hal pelajaran, jujur aku benar-benar di buat bertekuk lutut. Susahnya minta ampun. Masih untung di kelas X aku masih bisa mendapat peringkat 10 besar, sedang di kelas XI dan XII, nilaiku anjlok.
Ya tapi semua itu aku buat enjoy, aku sudah cukup senang dipertemukan oleh Tuhan kepada sahabat-sahabatku kini. TREAMNAT dan teman-teman yang lain. Itulah yang buat aku bisa kuat, khususnya disekolah, karena tiada hari tanpa canda tawa. Karena itu, ku nikmati hidup ini yang hanya berjalan sekali, itulah kehendak Tuhan kepada setiap hambaNya. Berusaha lapang dan menganggap itu hanya sebuah alur novel di kehidupan. Yang tak diketahui juga bagaimana akhir dari diriku, akhir dari semua orang.
